TAPUT (mimbarsumut.com) – Suara kayu bertemu kayu dari alat tenun masih terdengar dari beberapa rumah panggung di Desa Papande. Tapi iramanya sudah tidak sekencang dulu. Ulos-ulos tergantung di dinding, belum terjual. Senyum ibu-ibu penenun masih ramah, tapi tatapan mereka menyimpan cemas.
Dalam pantauan Wartawan di lapangan, para penenun di Pulau Sibandang kini menghadapi situasi yang memprihatinkan. Tenun Harungguan—kebanggaan adat yang diwariskan turun-temurun, mulai kehilangan pasarnya. Tak banyak pesanan masuk. Tidak ada promosi berjalan. Harga stagnan. Pasar sepi. Bahkan produk tiruan mulai bermunculan, mengklaim nama yang sama, tapi jauh dari kualitas dan nilai budaya.
Ulos Harungguan masih dibuat dengan tangan, pewarna alami, dan motif warisan. Tapi ia kini seperti bicara pada ruang kosong—karena tidak ada sistem yang menopangnya.
Seni Tinggi Tanpa Arah Pasar
Menenun Harungguan bukan pekerjaan sembarangan. Butuh kesabaran, ketekunan, dan cinta terhadap budaya. Namun di tengah dunia yang berubah cepat, seni ini kini seperti berjalan sendiri tanpa peta.
Dalam wawancara dengan beberapa pengrajin, terungkap bahwa mereka belum pernah menjalani pelatihan digital marketing. Mereka tidak memiliki katalog produk. Tidak ada koperasi aktif. Tidak ada platform daring untuk promosi. Bahkan mereka mengaku belum pernah difasilitasi untuk melawan produk imitasi atau mensertifikasi motif khas mereka.
Mereka bekerja dengan hati, tapi pasar butuh strategi.
Gambaran Masalah Utama (Infografis Ringkas)
Produk bernilai budaya tinggi
Pewarna alami, motif warisan, dibuat tangan.
Tidak ada sistem pendukung Tidak ada koperasi, katalog, atau strategi digital.
Pasar menurun drastis Harga stagnan, pesanan minim, imitasi meningkat. Generasi muda enggan melanjutkan. tenun tak menjanjikan penghidupan. Risiko punah jika tidak ada perubahan sistematis
Ketika Tenun Tidak Lagi Menghidupi
Bagi sebagian penenun, aktivitas ini kini hanya jadi selingan. Tidak lagi menjadi sumber utama penghidupan. Remaja putri di desa mulai enggan belajar menenun. Sebagian orang tua tak bisa melarang anaknya mencari kerja di luar kampung, karena penghasilan dari tenun terlalu tak pasti.
Situasi ini mengungkap kenyataan pahit: keindahan budaya saja tidak cukup untuk membuatnya bertahan. Ia butuh sistem yang menopang.
Refleksi: Harus Ada Cara Baru
Apa yang sedang terjadi di Sibandang bukan sekadar soal tidak laku. Ini adalah kegagalan membangun ekosistem. Selama ini, pengrajin hanya fokus pada produksi, tanpa memperkuat aspek hilir: pemasaran, jaringan pembeli, perlindungan motif, inovasi desain, dan digitalisasi.
Dan ketika sistem itu tidak dibangun, yang tersisa hanya harapan—yang setiap tahun makin tipis.
Ini seharusnya menjadi refleksi bersama, khususnya bagi para penenun: kita tidak bisa terus menunggu orang lain membangun jalan. Kita harus mulai menenun jalan kita sendiri.
Menenun Ulang Masa Depan
Ulos Harungguan adalah warisan yang terlalu berharga untuk ditinggalkan hanya karena sistem yang tak dibangun. Penenun di Sibandang harus mulai membentuk kelompok usaha bersama, belajar dari komunitas lain, mengajak generasi muda, dan perlahan menenun sistem distribusi mereka sendiri—meski sederhana.
Karena jika tidak, tenun itu hanya akan menjadi kenangan. Motif itu hanya akan tinggal di museum. Suara alat tenun itu akan benar-benar diam—karena tak lagi ada yang menggulung benang, dan lebih buruk: karena kita terlalu lama diam menunggu bantuan yang tak kunjung datang.
Dan pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar benang dan alat tenun. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mulai menenun sistem.
Laporan : sofian candra lase











