Malaysia Heran Kasus Covid-19 Indonesia Turun Lebih Cepat Padahal Malaysia Kerap Berlakukan Lockdown

Senin, September 6th 2021. | Internasional | Dibaca 8.058 Kali

Seorang dokter kontrak memegang plakat selama pemogokan di luar Rumah Sakit Sungai Buloh di negara bagian Selangor pada 26 Juli 2021, ketika dokter junior melakukan pemogokan di beberapa rumah sakit yang memprotes kondisi yang buruk, bahkan ketika Malaysia menghadapi wabah virus corona yang memburuk. (ARIF KARTONO/AFP)

MALAYSIA (MS) –  Menteri Kesehatan Malaysia diminta menjelaskan kenapa kasus Covid-19 Indonesia lebih cepat turun dibanding dengan negaranya.

Anggota parlemen Malaysia Lim Kit Siang menilai Indonesia lebih berhasil mengurangi tingkat infeksi Covid-19 dibanding “Negeri Jiran”.

Oleh karena itu pemimpin DAP Malaysia Lim Kit Siang itu meminta apa rahasia Indonesia sehingga kasus Covid-19 bisa cepat turun.

Padahal populasi di Indonesia lebih besar ketimbang Malaysia.

Dia pun mengulangi peringatan sebelumnya kepada Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin bahwa vaksinasi saja tidak akan membantu menyelesaikan masalah Covid-19 Malaysia.

“Bisakah menteri kesehatan yang baru, Khairy Jamaluddin, menjelaskan mengapa selama 16 hari berturut-turut, Indonesia mengurangi kasus baru Covid-19 hariannya menjadi kurang dari Malaysia bahkan kurang dari setengahnya seperti kemarin 8.955 kasus, sementara Malaysia 20.988 kasus?” kata Lim melansir Malay Mail pada Jumat (3/8/2021).

Saat ini menurut Lim, Malaysia adalah salah satu negara dengan kinerja terburuk di dunia dalam hal respons Covid-19 tahun ini.

Ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara itu telah mencatat rata-rata lebih dari 20.000 kasus selama lebih dari empat minggu.

“Ini bukan mencari-cari kesalahan tetapi untuk mencari cara meningkatkan penanganan kita terhadap pandemi Covid-19 sehingga memenangkan perang melawannya,” tambah pemimpin DAP itu seperti dikutip dari Kompas.com.

Menurut angka dari Our World in Data yang diterbitkan 1 September, kasus baru Covid-19 Malaysia per satu juta orang sekarang 572,43 dibandingkan dengan Indonesia 37,40, Filipina 126,95 dan Myanmar 61,27.

Malaysia juga menduduki puncak angka kematian Covid-19 di kawasan Asia Tenggara, dengan 8,48 per satu juta orang.

Vietnam berada di urutan kedua dengan 8,19 sementara kematian harian per satu juta orang di Indonesia adalah 2,36, menurut situs web yang sama.

“Pada laju infeksi dan kematian saat ini, kami akan menembus angka 1,8 juta untuk total kumulatif kasus Covid-19 hari ini,” kata Lim.

Lebih lanjut menurutnya, “Negeri Jiran” mungkin akan memecahkan angka dua juta total kumulatif kasus Covid-19 dan memecahkan angka 20.000 kematian akibat Covid-19 ketika merayakan Hari Malaysia ke-58 pada 16 September 2021.

Malaysia dengan begitu akan menyalip dua negara, Irak dan Belanda, dan menduduki peringkat ke-21 di antara negara-negara dengan total kumulatif kasus Covid-19 terbanyak, bergabung dengan 20 negara lain dengan lebih dari dua juta kasus Covid-19.

Tanggapan pandemi pemerintah Malaysia telah dikritik habis-habisan.

Otoritas kesehatan negara itu terus melaporkan lima digit kasus harian dalam dua bulan terakhir.

Direktur jenderal kesehatan Malaysia Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah, sebelumnya berjanji kasus akan stabil pada pertengahan Agustus.

Tapi sekarang, Abdullah mendapat banyak sorotan atas sejumlah keputusan yang dinilai belum dapat mengurangi jumlah kasus secara signifikan, termasuk soal dukungannya pada kebijakan lockdown ketat Malaysia.

Dia menolak untuk menerima panggilan untuk mengundurkan diri.

Lim mengaku telah lama meminta pemerintah Malaysia menjauhkan diri dari kepercayaan buta pada “penguncian total”, dan membuka bisnis sesuai dengan tujuan “hidup bersama Covid” alih-alih strategi “nol Covid”.

Sebagai gantinya, dia mengajukan adanya pembatasan yang ditargetkan (parsial).

“Ini adalah keburukan yang harus kita atasi karena ini adalah angka yang tak terbayangkan bagi Malaysia ketika pandemi Covid-19 dimulai 20 bulan lalu,” pungkas Lim.

Malaysia termasuk satu diantara beberapa negara yang kerap memberlakukan lockdown untuk mengantisipasi penularan Covid-19.

Meskipun lockdown tidak banyak membantu sebab buktinya kasus Covid-19 di negara itu belum juga turun.

Kasus baru yang dilaporkan Malaysia pada Kamis (2/9/2021) kembali melewati angka 20.000, tepatnya 20.988 infeksi baru.

Negara bagian Selangor menyumbang paling banyak beban kasus harian dengan 2.073 infeksi. Sedangkan Serawak dan Kedah masing-masing melaporkan 2.992 dan 2.455 kasus.

Kemudian, Sabah melaporkan 2.329 infeksi baru dan Johor 2.145 kasus baru harian.

Jumlah kasus Covid-19 harian baru di Malaysia telah bertahan dalam kisaran lima angka sejak 13 Juli lalu.

Melansir CNA, unit perawatan intensif (ICU) di seluruh negeri berjuang mengatasi masuknya pasien.

Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah mengatakan, tingkat hunian nasional secara keseluruhan untuk ICU mencapai 90 persen pada 1 September 2021.

Bahkan, tiga negara bagian mengalami kelebihan kapasitas ICU, yaitu Sabah (126 persen), Kedah (121 persen), dan Perak (107 persen).

Noor Hisham menuliskan, jumlah pasien dalam perawatan intensif sebanyak 1.001 orang.

Sejauh ini, Negeri Jiran mempunyai 262.540 kasus Covid-19 aktif dengan total beban kasus sebanyak 1,78 juta.

Dilaporkan sebanyak 249 kematian baru, sehingga totalnya berjumlah 17.191 orang.

Terkait dengan vaksinasi, sebanyak 65,1 persen dari populasi dewasa di negara ini telah mendapatkan rejimen lengkap.

Jokowi Wanti-wanti

Sementara itu, Presiden Joko Widodo meminta seluruh pihak tetap waspada dan berhati-hati dalam menghadapi pandemi virus corona.

Meski situasi pandemi di Tanah Air sudah menunjukkan perbaikan, ia mengingatkan bahwa sejumlah negara masih mengalami lonjakan kasus.

“Beberapa negara yang penduduknya sudah divaksinasi sebanyak lebih dari 60 persen ternyata saat ini juga masih mengalami gelombang lonjakan kasus Covid-19 lagi,” kata Jokowi dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Senin (30/8/2021) lalu.

Jokowi mengatakan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia terus menunjukkan perbaikan.

Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit rujukan Covid-19 juga melandai di angka 27 persen.

Namun demikian, perkembangan situasi Covid-19 harus menjadi pelajaran bagi Indonesia. Menurut Jokowi, lonjakan kasus virus corona di negara lain disebabkan karena masyarakatnya tak patuh pada protokol kesehatan.

Oleh karena itu, ia mewanti-wanti semua pihak tetap disiplin menerapkan 3M, mulai dari memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Kita harus bersama-sama menjaga agar kasus Covid-19 tidak naik lagi. Kuncinya sederhana, ayo segera ikut vaksin, ayo disiplin terapkan protokol kesehatan,” ucap presiden.

Pemerintah pun masih terus melanjutkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 1-4 di seluruh daerah di Tanah Air. Kebijakan itu diperpanjang hingga 6 September 2021.

Pada perpanjangan PPKM kali ini terdapat sejumlah daerah yang turun level dari level 4 menjadi 3.(TRIBUNNEWS.COM).

Print Friendly, PDF & Email
Please follow,Share and Like us :

Related For Malaysia Heran Kasus Covid-19 Indonesia Turun Lebih Cepat Padahal Malaysia Kerap Berlakukan Lockdown