Seorang ‘Jebolan’ COVID-19 Minta Kesadaran Masyarakat Indonesia Peduli Wabah Virus Corona dan Ikuti Aturan Pemerintah

Kamis, Juli 22nd 2021. | NASIONAL, RAGAM | Dibaca 842 Kali

FEATURE

Tidak pernah terpikirkan jika keluarga saya akan terpapar COVID-19 sebab untuk menjaga diri jangan sampai terpapar virus yang membahayakan itu, kami benar – benar ekstra ketat menjaga diri dengan mengikuti Prokes (protokol kesehatan) dan menerapkan 5 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas). Ironisnya lagi, dari satu keluarga, kami yang berjumlah 4 orang dinyatakan terpapar positif COVID-19 dan istri saya yang awalnya dinyatakan positif COVID-19 sesuai hasil pemeriksaan PCR di salah satu rumah sakit di Medan dan setelah menjalani perawatan, dilanjutkan isolasi baik di rumah sakit dan isolasi mandiri, istri saya dinyatakan sudah sembuh dan sesuai hasil PCR dinyatakan negatif COVID-19. Namun hingga saat ini dampak virus COVID masih mempengaruhi terhadap kesehatannya. Istri saya dinyatakan ‘Long COVID’.

Hingga saat ini, istri saya yang sudah dinyatakan negatif COVID-19, harus menjalani perawatan yang tidak diketahui kapan berakhirnya karena menurut dokter bagian paru maupun dokter bagian dalam di salah satu rumah sakit di Kota Tebingtinggi, istri saya merupakan salah satu pasien COVID-19 dengan status “Long COVID”. Artinya, kendatipun sudah sembuh dan dinyatakan negatif COVID-19, namun dampak dari virus yang mematikan itu masih tetap berbekas dan mempengaruhi kesehatannya.

Dengan demikian, istri saya harus tetap menjalani perawatan penyembuhan. Dan, kapan ini berakhir atau sembuh supaya pulih seperti sedia kala, tidak dapat dipastikan. Penyembuhan totalitas, tergantung pasien. Secara medis, Long COVID-19 ini masih dalam analisa kedokteran, penyembuhan secara total bekas COVID-19 bisa memakan waktu 3 bulan bahkan bertahun. Untuk penyembuhan secara total pasien yang dinyatakan Long COVID, sangat tergantung terhadap pasien dalan menjalankan pola kesehatan khususnya menerapkan Prokes COVID-19 serta melaksanakan 5M.

“Saya sempat tidak percaya jika istri saya dinyatakan positif COVID-19,” ujar Iwan kepada mimbarsumut.com, Rabu (16/07/2021). Menurut Iwan, sejak COVID-19 merebak di tanah air dan masuk ke Kota Tebingtinggi, keluarganya benar – benar ekstra hati – hati menjaga diri jangan sampai terpapar COVID-19. Tidak pernah lupa memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Awalnya, kami dinyatakan terpapar COVID-19 setelah saya membawa istri saya berobat ke RSU Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi karena sudah satu minggu menderita sakit akibat terkena hujan saat berbelanja di pasar. Kondisi istri lemas, susah tidur namun tidak ada batuk maupun gejala – gejala COVID-19. Setelah beberapa hari menderita sakit di rumah dan terakhir bagian paru – parunya terasa sakit serta sulit tidur. Akhirnya, melihat kondisi istri semakin lemah, terpaksa saya bawa ke RSUD Kumpulan Pane. Setelah menjalani pemeriksaan dan melakukan rongent bagian paru, istri saya dinyatakan 90 porsen mengarah terpapar virus corona (COVID-19).

Dokter mengarahkan supaya dilakukan perawatan penanganan COVID-19 dan harus dirujuk ke rumah sakit yang menangani COVID-19, mengingat ruangan COVID-19 di RSUD Kumpulan Pane Tebingtinggi sudah penuh. Akhirnya, istri saya di rujuk ke salah satu rumah sakit di Medan yang menangani pasien COVID-19. Pihak rumah sakit langsung melakukan PCR dan keesokan harinya, istri saya dinyatakan positif terpapar COVID-19. “Kami terkejut, takut dan khawatir mengetahui istri positif COVID-19,” ungkap Iwan.

Selanjutnya, istri mendapat perawatan di rumah sakit tersebut dan pihak keluarga sama sekali tidak diperbolehkan menjenguknya. Istri diisolasi secara ketat di rumah sakit. Setelah istri dinyatakan positif COVID-19, saya beserta kedua anak perempuan kembali ke Kota Tebingtinggi dan menjalani swab antigen di Puskesmas. Dari hasil swab antigen tersebut, kami bertiga juga dinyatakan positif COVID-19 oleh pihak Puskesmas. Kami disarankan melakukan isolasi mandiri dan tetap mengikuti Prokes COVID-19 serta menguatkan imun tubuh.

Istri menjalani peratawan dan diisolasi di rumah sakit. Sementara kami bertiga harus menjalani isolasi mandiri. Untuk mempercepat kesembuhan kami bertiga, saya terpaksa mencari tempat / kamar isolasi, secara terpisah. Kami bertiga menjalankan isolasi mandiri di kamar terpisah.

Selama menjalankan isolasi mandiri selama 14 hari, kami benar – benar mengikuti aturan Prokes COVID-19, berolah raga dan berjemur setiap pagi serta mendapat imun yang cukup, mengkonsumsi berbagai vitamin baik yang diberikan Puskesmas maupun yang disuplay keluarga. Kami hanya melakukan aktvitas di dalam kamar sementara untuk kebutuhan menu makanan dan imun yang cukup, pihak keluar yang mengirim setiap hari.

Demikian juga istri selama di rumah sakit benar – benar mengikuti arahan dokter. Ia juga mendapat imun yang cukup baik dari rumah sakit maupun imun yang disuplay keluarga melalui pihak rumah sakit. Menurut istri saya, selama perawatan tersebut, dokter yang menanganinya selalu memberikan suport agar santai dan jangan terlampau dipikirkan. Istri juga mendapat obat dan suntikan yang harganya mencapai satu juta lebih sekali suntik. Demikian juga vitamin yang dikonsumsi nilai rupiahnya cukup mahal.

Melihat penanganan kesembuhan istrI saya dari kasus COVID-19, dimana bagian paru – parunya sudah gerogoti virus, jika perobatan dilakukan secara mandiri, saya sejujurnya tidak mampu karena biaya perobatannya sudah mendekati 100 juta rupiah. Beruntung, pihak rumah sakit memasukan biaya perobatan istri saya sebagai pasien COVID-19 sebagai program bantuan Kemenkes. Artinya, sejak istri saya masuk rumah sakit dan dinyatakan positif COVID-19 hingga dilakukan perawatan selama 14 hari dan dinyatakan sudah negatif COVID-19 sesuai hasil PCR pihak rumah sakit, baru istri saya diperbolehkan pulang dan melakukan isolasi mandiri. Selama perawatan tersebut, kami sama sekali tidak ada mengeluarkan biaya perobatan dan biaya rumah sakit.

Sekarang kami sudah kembali berkumpul. Namun istri saya masih harus tetap menjalani penyembuhan dan chek up 1 x 1 minggu ke rumah sakit. Setelah terpapar COVID-19 dan dinyatakan sembuh, kondisi istri saya masih harus menjalani penyembuhan karena dia salah satu pasien dengan status Long COVID-19. “Kendatipun dinyatakan sudah sembuh, negatif COVID-19, namun dampak dari virus tersebut masih menganggu terhadap kesehatannya. Selain melakukan chek up (pemeriksaan kesehatan) ke rumah sakit, istri juga harus mendapat imun yang baik, sehingga tetap mengkonsumsi vitamin, makanan bergizi dan tetap berolahraga serta berjemur setiap pagi.

Belajar dari pengalaman terpapar virus corona itu, saya menghimbau kepada masyarakat Indonensia supaya benar – benar memiliki kepedulian untuk menjaga diri sendiri dengan cara menerapkan Prokes COVID-19 dan melakukan 5M (senantiasa memakai masker, selalu memcuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menjauhi kerumunan, menjaga jarak serta mengurangi mobilitas (kegiatan).

Memang melihat berbagai kasus, jika sudah divonis COVID-19, ada yang dinyatakan sembuh dan ada yang meninggal dunia. Mereka yang dinyatakan sembuh, 80 porsen langsung bisa melakukan aktivitas seperti biasa namun 20 porsen masih harus menjalani perawatan akibat dampak virus corona yang sudah sempat merusak bagian dalam tubuh dan ini yang dinyatakan Long COVID-19.

Selain harus menjalani penyembuhan untuk total kembali sehat sedia kala, ‘jebolan’ COVID-19 (pasien COVID-19 yang sudah sembuh) juga mendapat sangsi sosial. Ini benar – benar kami rasakan, sebagian besar warga komplek tempat kami tinggal sampai sekarang was – was mendekat dengan kami sekeluarga kendatipun saya dan anak – anak sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Hubungan yang selama ini akrab dengan tetangga sebelum kami dinyatakan positif COVID-19, namun setelah kami dinyatakan positif COVID-19, tetangga yang selama ini dekat, malah menjauh.

Melihat pengalaman terpapar COVID-19 ini, saya menghimbau seluruh masyarakat indonesia agar benar – benar menjaga diri dengan tetap mematuhi Prokes dan jangan lalai, karena jika sudah dinyatakan positif COVID -19, akan sangat mempengaruhi terhadap kesehatan dan belum lagi sangsi sosial dari tetangga.

Mari kita semua masyarakat Indonesia memiliki sikap kepedulian terhadap wabah virus dunia ini, mengikuti aturan pemerintah, mengikuti Prokes dengan menerapkan 5M. Jika semua masyarakat memiliki kesadaran sendiri dan mengikuti peraturan pemerintah terkait COVID-19, maka virus corona ini akan cepat berlalu dari bumi Indonesia. Semoga seluruh masyarakat Indonesia memiliki kesadaran sehingga COVID-19 bisa berlalu.

Print Friendly, PDF & Email
Please follow,Share and Like us :
tags: ,

Related For Seorang ‘Jebolan’ COVID-19 Minta Kesadaran Masyarakat Indonesia Peduli Wabah Virus Corona dan Ikuti Aturan Pemerintah