Pengalaman Ny N. Siregar, Terpapar COVID-19, Sembuh Dengan Isoman, Minta Warga Patuhi Prokes

Selasa, Desember 7th 2021. | Batubara, RAGAM | Dibaca 288 Kali

Ñy N.Siregar di ruko tempatnya  jualan, sudah patuh menerapkan Prokes 5M 

FEATURE : Sutan Sitompul

Sejak merebaknya pandemi COVID-19 selama 19 bulan lebih telah berdampak bagi sendi-sendi kehidupan bagi sebahagian besar orang. Hal itu juga dialami masyarakat Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Mulai dari segi perekonomian, banyak usaha yang terdampak dan gulung tikar alias bangkrut mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran akibat terkena PHK dan lainnya. Namun, ditengah pandemi COVID-19 banyak juga yang meraih sukses dan Pandemi COVID-19 juga sangat berdampak terhadap kesehatan dimana banyak masyarakat yang terpapar penyakit mematikan itu dan harus dirawat di rumah sakit dan banyak yang meninggal dunia.Karena rumah sakit penuh banyak masyarakat yang terkonfirmasi positif COVID-19 terpaksa dirawat dengan cara isolasi mandiri (Isoman).

Perawatan cara Isoman tentu tidak sebaik pelayanan medis seperti di rumah sakit. Dirawat secara Isoman ada juga yang meninggal dunia. Korban pandemi COVID-19 pada umumnya adalah mereka yang belum mendapat suntikan vaksin COVID-19. Musibah ini telah banyak menelan korban dan membuat jumlah janda dan duda serta anak yatim/ piatu meningkat drastis. Namun meski belum divaksin mereka yang terpapar penyakit mematikan itu banyak yang sembuh baik yang dirawat di rumah sakit maupun dirawat secara Isoman.

Ada banyak kisah mereka yang terpapar COVID-19 itu bisa sembuh meski dirawat seadanya dengan cara isolasi mandiri (Isoman).

Salah satu kisahnya, dari seorang ibu rumah tangga yang terpapar COVID-19 sebelum divaksin dan berhasil sembuh setelah menjalani perawatan dengan cara Isoman. Setelah sembuh dia belum juga bisa divaksin karena memiliki penyakit menahun yakni penyakit diabetes yang juga disebut sakit gula yang dialaminya sejak sepuluh tahun lalu. Dia menceritakan pengalamannya.

” Saya sangat menyesal terpapar virus corona (COVID-19) karena abai dengan protokol kesehatan (Prokes) meski berkat pertolongan tim medis dan dukungan semangat dari keluarga saya bisa sembuh. Alhamdulillah,” ujar Ny Nurasimah Siregar (NS) mengawali kisahnya kepada mimbarsumut.com, di rumahnya, Kamis (2/12/2021) siang.
Ny NS kelahiran tahun 1958 ini tinggal bersama suami serta seorang anak dan cucu di LK IV Kelurahan Limapuluh Kota Kecamatan Limapuluh Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Karena rumah yang mereka tempati berada di tepi Jalinsum Medan – Kisaran itu dijadikan tempat usaha berjualan makanan ringan dan minuman berbagai jenis, rokok dan lainnya. Untungnya, tempat usaha keluarga Ny NS ini juga menjadi loket KUPJ (Koperasi) trayek Medan – Tanjung Balai – Bagan Batu -Perdagangan PP. Jadi setiap harinya lumayan banyak warga yang belanja.

Setelah COVID-19 terus merebak Pemkab Batubara bersinergi dengan instansi terkait mensosialisasikan perlunya memakai masker untuk melindungi diri dari terpapar virus corona serta melakukan penyemprotan disinfektan skala besar mengantifasi penyebaran COVID-19.

” Tapi saya kurang tanggap dan terkesan abai apa yang dianjurkan pemerintah agar memakai masker agar tidak terpapar virus corona,” aku Ny NS.

Yang paling saya sesalkan, lanjut Ny NS adalah mengabaikan permintaan suaminya agar tetap memakai masker. “Bahkan setiap hari suami mengingatkan saya agar memakai masker. Kalau tidak lihat saja nanti kamu bisa terpapar COVID-19,” ujar suami mengingatkan waktu itu.

Kekhawatiran suami bukan tidak beralasan lanjut Ny NS, pasalnya saya telah lama mengidap diabetas alias sakit gula pada kisaran 300 sampai 400. Dan orang yang memiliki penyakit diabetas pada usia lanjut (lansia) sangat rentan terpapar virus corona. “Sementara suami saya yang usianya 9 tahun lebih tua, saya perhatikan sangat patuh pada anjuran pemèrintah dengan memakai masker baik di rumah saat membantu saya melayani pembeli yang datang silih berganti. Begitu juga saat beraktivitas di luar rumah tetap patuh memakai masker.

Selain itu, untuk menjaga kesehatan rutin konsumsi vitamin dan minum air kelapa muda setelah dicampur dengan sedikit garam, madu dan perasan air jeruk nipis.

Dikatakan, Ny NS pada Agustus 2021 Kelurahan Limapuluh Kota tempat mereka berdomisili masuk zona merah.
Ketika pemerintah mulai melakukan vaksinasi sebagai ikhtiar mencegah penyebaran COVID-19 banyak warga yang berbondong- bondong untuk ikut vaksinasi. Namun banyak juga yang belum divaksin dengan berbagai alasan.

Sementara, Ny NS tidak bisa divaksin karena kadar gula darahnya berkisar 300 sampai 400.

“Apa yang saya khawatirkan akhirnya terjadi juga. Awalnya, pada tanggal 7 Agustus 2021 petang istri saya (NS) secara tiba-tiba merasa tidak enak badan. Badan terasa panas /demam diiringi batuk dan pilek.Pertolongan pertama kami berikan parasetamol 500 gr dan vitamin.

Besok paginya, kami bawa ke Klinik di Limapuluh Kota untuk test swab dan hasilnya istri saya terkonfirmasi positif,” ujar Opung menjelaskan kronologis istrinya Ny NS terpapar COVID-19.

Mengetahui dirinya positif COVID-19 istri saya terlihat kecewa dan wajahnya terlihat pucat. Sejak itu, Ny NS rutin memakai masker sebagai antipasi agar keluarga yang terus menemaninya jangan ikut terpapar virus corona. “Saya dan putri saya membujuk istri agar tetap semangat dan hari itu juga kami membawa istri ke salah satu rumah sakit di Kota Pematangskantar Provinsi Sumut.
Perjalanan dari Limapuluh ke Pematangsiantar yang berjarak 50 Km menggunakan mobil pribadi harus ditempuh dalam waktu dua jam dan sangat melelahkan. Pasalnya, jalan Provinsi Sumut itu kini kondisinya sangat memprihatinkan lobang – lobang bak kubangan kerbau terdapat di sejumlah titik dan baru pada rejim sekarang ini ruas jalan provinsi Sumut itu dibiarkan hancur dan belum ada tanda – tanda akan diperbaiki.

Sesampainya di rumah sakit langsung kami beritahu kepada tenaga kesehatan (Nakes) setempat kalau Ny NS terkonformasi positif COVID-19 berdasarkan hasil test swab oleh Nakes di Klinik milik Nurilam di Limapuluh Kota.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal oleh dokter yang bertugas di bagian UGD oleh petugas kesehatàn di rumah sakit tersebut diberitahukan kalau kamar untuk perawatan bagi penderita COVID-19 di tempat itu sudah penuh dan disarankan agar dikirim ke rumah sakit lainnya.

“Kami memilih pulang setelah menebus resep obat yang dibuat oleh dokter jaga di rumah sakit tersebut. Setelah makan siang obat langsung kami berikan seterusnya kami lakukan perawatan secara isolasi mandiri di rumah anak kami di Perumnas Limapuluh,” ujar Opung.

Usaha yang selama ini ditangani Ny NS diambil alih oleh suaminya. “Kami juga membeli obat dari resep yang diberikan oleh pemilik klinik yang juga anggota Satgas COVID-19 Kecamatan Limapuluh sebagai tambahan,” terang Opung. Obat dan vitamin kami berikan kepada istri sesuai petunjuk yang tertulis pada obat.Kami juga memberikan buah – buahan.

“Saya juga memberi untuk istri air kelapa muda dicampur sedikit garam ditambah madu dan perasan jeruk nipis. Malam pertama isolasi saya temani istri dalam satu kamar meski tidak seranjang. Selera makan istriku turun meski begitu kami paksakan harus tetap makan meski cuma sedikit yang membuat badannya makin lemah,” terang Opung.

Memasuki hari ke lima Isoman kondisinya makin melemah dan tidak bisa tidur pada malam hari memperburuk kondisinya.Wajar saja kalau saya dan anak- anak merasa khawatir. Hari ke enam isoman, kondisi istriku makin melemah, selera makannya makin sedikit.

“Tolong bawa aku ke rumah sakit biar diinfus tambah tenaga,”pinta Ny NS pagi itu. Setelah berembuk dengan anak – anak,istri kemudian kami bawa ke salah satu klinik di Kabupaten Batubara. Pagi pukul 05.00 WIB kami berangkat dan satu jam kemudian sampai di klinik. Bidan pemilik klinik langsung melakukan pemeriksaan kemudian dengan cekatan memasang cairan infus juga ditambah vitamin dan obat lainnya untuk pengobatan COVID-19.

Tengah hari setelah menghabiskan tiga botol infus ibu NS terlihat mulai segar.Selera makannya juga sudah muncul. Makan sore menjelang malam mulai normal kembali dan terlihat makin membaik. Hingga pukul 20.00 WIB setelah menghabiskan 5 botol cairan infus, jarum infus pun dilepas. Kami membiarkan istri istirahat sampai satu jam. Pemilik Klinik menawarkan bermalam satu malam mengantivasi kemungkinann munculnya dampak / reaksi dari cairan infus yang dimasukkan.

“Perasaanku sudah jauh lebih baik.Kita pulang aja ya, biar istirahat di rumah saja,” pinta istriku penuh harap. Setelah berbincang dengan ibu bidan pemiki klinik akhirnya kami diizinkan pulang dibekali sejumlah vitamin dan obat lainnya.

Esok paginya setelah sarapan dan konsumsi vitamin dan obat, istriku berjemur sinar mata hari pagi. Air kelapa muda kami berikan setiap hari dicampur dengan sedikit garam , madu dan perasan jeruk nipis.

Setelah sepuluh hari menjalani isoman di rumah anak kami, istri minta pulang ke rumahnya meski masih harus istirahat yang cukup. Dua hari setelah di rumah tim Satgas COVID-19 Kecamatan Limapuluh dipimpin Nurilam datang ke rumah kami memberikan obat dan vitamin untuk dikonsumsi secara teratur guna percepat pemulihan.

Opung yang terus mendampingi istri oleh tim Satgas COVID-19 diminta untuk ditest swab. “Bapak kita test swab ya untuk antipasi karena sudah terus menemani istri yang terkonfirmasi positif COVID-19,” pinta ibu Nurilam.

“Saya mengiyakan. Setelah dilakukan test swab hasilnya negatif,” jelas Opung bersemangat.

“Alhamdulillah kesehatan istri saya semakin membaik dan terus konsumsi vitamin dan selera makan sudah pulih. Berjemur setiap pagi kecuali hujan dan yang paling utama saya disiplin pakai masker dan mencuci tangan terutama saat beraktivitas melayani pembeli dan saat berada di luar rumah,” ujar Ny NS yang disapa opung boru oleh sepuluh orang cucunya.

Ny NS mengatakan keinginannya untuk ikut vaksinasi COVID-19 untuk meningkatkan imun tubuh. Tapi kadar gula darahnya yang masih tinggi sekitaran 300 sampai 400 membuat tenaga kesehatan menolak untuk menyuntikkan vaksin untuknya.

“Saya terpapar COVID-19 sebelum divaksin akibat penyakit bawaan / diabetes yang saya derita. Setelah sembuh dari COVID-19 dirawat secara isoman, saya juga belum bisa ikut vaksin karena kadar gula darah masih tinggi,” terang Ny NS.

Setelah sembuh dan aktif kembali untuk berjualan Ny NS tidak mau abai lagi memakai masker. Dia juga menyediakan beberapa jenis masker untuk dijual.

Berdasarkan pengalamannya terpapar COVID-19 Ny NS menghimbau masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan 5M, utamanya memakai masker saat beraktivitas di luar rumah dan berjemurlah dengan sinar matahari pagi, olahraga ringan dan konsumsi vitamin dan jangan meminum minuman dingin (es batu)
“Ayo jangan kendor pakai masker setiap hari untuk melindungi diri dan keluarga tercinta agar tidak terpapar COVID-19,” ujar Ny NS mengingatkan.

Print Friendly, PDF & Email
Please follow,Share and Like us :
tags: , , ,

Related For Pengalaman Ny N. Siregar, Terpapar COVID-19, Sembuh Dengan Isoman, Minta Warga Patuhi Prokes