Fatures : Pro Kontra COVID-19, Masyarakat Harus Diberikan Penjelasan Secara Transparan

Jumat, Oktober 30th 2020. | RAGAM, Tebingtinggi | Dibaca 440 Kali

Walikota Tebingtinggi bersama unsur Forkopimda dan OPD menggelar rapat untuk penanaganan COVID -19

Awal Februari 2020, issu COVID-19 mulai merebak di Sumatera Utara. Menyikapi maraknya issu COVID- 19, Gubsu Edy Rahmayadi meminta semua kepala daerah di Sumatera Utara harus mengantisipasi penyebaran virus corona. Kendatipun berbagai upaya telah dilakukan, akhirnya beberapa daerah kabupaten / kota di Sumut, merebak juga issu virus corona diawali dengan ditemukan beberapa warga ODP (Orang Dalam Pantauan) terkait kasus COVID- 19.

Dengan adanya ditemukan Orang Dalam Pantauan (ODP) kasus COVID -19 di beberapa daerah di Sumut dan untuk mengantisipasinya, kabupaten / kota melakukan penyemprotan disinfektan di inti kota, lokasi perkantoran, pusat perbelanjaan, keramaian dan lokasi yang dianggap virus corona dapat menempel.

Tidak luput, untuk mengantisipasi virus corona tersebut, Pemko Tebingtinggi juga melakukan penyemprotan disinfektan
untuk mengantisipasi merebaknya virus corona.

Selain itu, Pemko bersama Polres Tebingtinggi gencar melakukan sosialisasi dan himbauan agar masyarakat Kota Tebingtinggi tidak keluar rumah jika tidak penting dan apa bila keluar rumah harus memakai masker dan sering – sering mencuci tangan serta dihimbau tidak berkumpul secara ramai – ramai atau harus mengatur jarak.

Sejak dikabarkan kasus virus corona sudah merebak di Kota Tebingtinggi ditandai dengan adanya temuan kasus Orang Dalam Pantauan (ODP), membuat warga Kota Tebingtinggi khawatir dan takut. Saat itu, warga memburu masker dan hand sanitizer yang sudah mulai langka di Kota Tebingtinggi.

Banyaknya, ditemukan ODP di Kota Tebingtinggi dan adanya larangan berkumpul serta berjualan dengan mengumpulkan massa, semakin membuat kecemasan bagi warga Kota Tebingtinggi akan bahaya mematikan virus corona.

Seiring dengan waktu perkembangan virus corona dan walaupun masyarakat sudah banyak meninggal dunia dan dilakukan penguburan sesuai Prokes, membuat adanya pro – kontra di tengah – tengah masyarakat. Warga tidak terima jika anggota keluarganya dikebumikan sesuai prokes karena pada saat masuk rumah sakit dan dirawat, tidak memiliki gejala COVID-19.

Pro – kontra terkait virus corona khususnya dalam penguburan jenazah perlu dilakukan pencerahan terhadap masyarakat, agar bisa menerima jenazah dikebumikan sesuai Prokes. Bisa saja, saat mengidap penyakit lain dan masuk rumah sakit belum ada ditemukan gejala virus corona. Akan tetapi setelah menjalani perawatan, pasien terindikasi terpapar COVID-19 karena kondisi tubuh yang lemah. Sebelum hasil swab keluar, pasien meninggal dunia sehingga karena adanya indikasi COVID -19 tadi, maka pasien dikebumikan (proabel) sesuai Prokes.

Hal ini dilakukan untuk menjaga hal yang tidak diinginkan terhadap keluarga pasien jangan sampai ikut terpapar virus corona. Kendati demikian, masyarakat masih tidak bisa menerima jika anggota keluarganya yang meninggal dunia terpapar virus corona.

Oleh sebab itu, dinas terkait khususnya pihak rumah sakit harus bisa memberikan penjelasan secara transparan agar masyarakat bisa menerima jika anggota keluarganya yang dikebumikan sesuai protokol kesehatan adalah untuk menjaga penyebaran dan memutus mata rantai virus corona.

Dalam memutus perkembangan virus corona, Pemko Tebingtinggi gencar membagi – bagikan masker dan hand sanitizer kepada masyarakat sembari melakukan sosialisasi agar masyarakat ikut berpartisipasi melawan COVID -19 dengan tetap menggalakkan Prokes dan melakukan 4M (memakai masker, mencuci tangan, mengatur jarak, menghindari kerumunan).

Berbagai elemen masyarakat diajak ikut berperan membagi – bagikan masker kepada warga sebagai bentuk sosialisasi agar senantiasa memakai masker apa lagi saat berada di luar rumah. Awalnya masyarakat menyambut baik untuk memakai masker karena merasa takut akan virus corona. Namun, belakangan ini, warga masyarakat sudah meninggalkan pemakaian masker, sepertinya tidak takut lagi akan virus corona.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID -19 Kota Tebingtinggi, Nanang Fitra Aulia Sp. PK mengatakan, masih minimnya kesadaran masyarakat atas imbauan pemerintah menjadi salah satu penyebab virus corona berkembang. Karena itu, pihaknya terus berupaya memberikan edukasi pencegahan terhadap virus corona.

Kesadaran masyarakat masih sangat minim. Masih banyak masyarakat yang mengabaikan seruan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran COVID -19,” katanya.

Guna mengantisipasi penyebaran virus corona, berbagai upaya telah dilakukan Pemko Tebingtinggi mulai dari melakukan sosialisasi, melarang puluhan pedagang yang biasanya menggelar dagangan di sekitar Lapangan Merdeka, Jalan Sutomo, menutup sementara usaha cafe, melarang pedagang makanan melayani makan di tempat, menunda kegiatan keagamaan, menutup rumah ibadah, melarang resepsi pernikahan, jika ada orang meninggal dunia langsung dikubur dan masih banyak himbauan yang dibuat untuk mencegah penyebaran virus corona.

Perkembangan penanganan virus corona di Kota Tebingtinggi dalam beberapa bulan terakhir ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Kota Tebingtinggi sangat minim dalam mengantisipasi virus corona. Walaupun sudah ada dinyatakan warga Tebingtinggi meninggal dunia positif COVID – 19, bahkan hingga data terkini yang positif meninggal akibat COVID – 19 ada sebanyak 10 orang, tetap tidak membuat warga Tebingtinggi semakin khawatir terhadap virus corona.

Demikian halnya perkembangan (up todate) COVID -19 yang direlis Dinas Kominfo Kota Tebingtinggi setiap hari, warga masyarakat juga ada yang percaya ada juga tidak percaya. Bahkan, mereka yang tidak percaya terhadap perkembangan tersebut, mengatakan itu hanya untuk trik penggunaan anggaran dana COVID – 19.

Memasuki new normal atau kebiasaan baru COVID-19, warga masyarakat juga tetap pro kontra terhadap perkembangan virus corona. Bahkan, ada yang mengatakan virus corona tidak ada lagi sehingga mereka mengabaikan protokol kesehatan bahkan keluar rumah tidak lagi memakai masker.

Dalam kebiasaan baru ini, warga tetap bersikap dengan kebiasaan lama tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Kondisi ini, membuat Kota Tebingtinggi dinyatakan sebagai zona merah dan ironisnya, zona merah nomor 1 di Sumut.

Sebaiknya, melihat kondisi Kota Tebingtinggi dinyatakan sebagai zona merah apalagi zona merah nomor 1 di Sumut, seharusnya warga masyarakat harus semakin sadar menerapkan kebiasaan baru dengan tetap mengacu protokol kesehatan. Akan tetapi, kenyataanya masih banyak warga masyarakat yang tidak peduli. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan warga setiap hari.

Dalam setiap melakukan kegiatan di luar rumah, warga tidak lagi mengikuti protokol kesehatan COVID-19, bahkan sudah banyak orang tidak memakai masker. Dibalik tidak adanya lagi kesadaran sebagian warga masyarakat, Pemko Tebingtinggi masih tetap melalukan sosialisasi terkait COVID-19 bahkan belakangan ini kembali membagikan ribuan masker. Hal ini semata – mata untuk menyadarkan masyarakat yang belum menjalankan kebiasaan baru dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Diharapkan ditengah perekonomian masyarakat yang sulit saat ini, warga masyarakat dapat melaksanakan kebiasaan baru dengan tetap mengacu protokol kesehatan. Saat ini kehidupan perekonomian masyarakat apa lagi yang berpenghasilan rendah dan tidak tetap sangat susah, akan tetapi, akan lebih susah lagi jika warga masyarakat diserang virus corona hanya karena tidak mengikuti protokol kesehatan.

Jika warga masyarakat Kota Tebingtinggi semua memakai masker dan mengikuti protokol kesehatan, maka dapat dipastikan virus corona akan hilang dari Kota Tebingtinggi. Sebaiknya, peraturan dan sangsi terhadap orang yang tidak memakai masker dapat diberlakukan secepatnya di Kota Tebingtinggi. Mungkin, dengan adanya sangsi bagi orang yang tidak memakai masker, maka semua warga Kota Tebingtinggi akan setia memakai masker dalam setiap melakukan aktivitas di luar rumah.

Demikian juga para pedagang apapun, sebaiknya harus tetap memakai masker dan menyediakan tempat cuci tangan serta hand sanitizer. Kebiasaan baru dengan mengutamakan protokol kesehatan harus digalakkan di Kota Tebingtinggi sehingga status zona merah dapat dihilangkan. Hal ini juga akan berdampak terhadap jumlah warga Tebingtinggi yang dinyatakan ODP akan semakin berkurang bahkan dapat ditekan hingga zero.

Semoga warga Kota Tebingtinggi dapat melakukan kebiasaan baru dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan, maka dipastikan virus corona hilang dari Kota Tebingtinggi. Semoga warga masyarakat dapat mengikutinya.

(Fatures : Ridwan Napitupulu)

Print Friendly, PDF & Email
Please follow,Share and Like us :
tags: , ,

Related For Fatures : Pro Kontra COVID-19, Masyarakat Harus Diberikan Penjelasan Secara Transparan