Kopi dan Kuliner Bermutu, Antisipasi Tebingtinggi ‘Mati Suri’

Senin, Desember 9th 2019. | Budaya, EKBIS, RAGAM, Tebingtinggi | Dibaca 849 Kali

Wagubsu dan Walikota Tebingtinggi saat meresmikan festival kopi dan kuliner tahun 2018 di Kota Tebingtinggi

TEBINGTINGGI (MS) – Kota Tebingtinggi sebagai Kota Jasa dan Perdagangan, harus tetap berbenah diri menyahuti perkembangan pembangunan yang berdampak terhadap Kota Tebingtinggi sendiri. Pembangunan yang terjadi saat ini bisa ‘mengancam’ perkembangan Kota Tebingtinggi sebagai Kota Jasa dan Perdagangan bahkan Kota Tebingtinggi bisa menjadi ‘mati suri’.

Hal ini bukan tidak beralasan, bahkan sudah ada contoh yang terjadi saat ini di Kabupaten Serdang Bedagai. Akibat pembangunan jalan tol, Pasar Bengkel di Perbaungan Kabupaten Sergai yang menjual berbagai makanan oleh – oleh hasil home industri, kini kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan pengusaha / pedagang oleh – oleh di Pasar Bengkel kini gulung tikar dan sudah banyak yang tutup.

Sebelum ada jalan tol Medan – Kuala Namu – Tebingtinggi, kondisi Pasar Bengkel begitu ramai mulai pagi sampai tengah malam, bahkan bisa dibilang Pasar Bengkel buka 24 jam karena rata – rata mobil pribadi maupun mobil penumpang antar kota dalam propinsi pasti singgah untuk rehat sesaat sembari minum kopi dan berbelanja oleh – oleh. Kondisi ini otomatis meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan berdampak terhadap peningkatan pendapatan daerah Kabupaten Sergai.

Akan tetapi, dengan hadirnya dan beroperasinya jalan tol Medan – Kuala Namu – Tebingtinggi, membuat masyarakat setempat saat ini mengeluh karena tidak ada lagi mobil yang berhenti minum kopi dan berbelanja oleh – oleh. Jika ada pun mobil yang berhenti, hanya mobil angkutan penumpang yang memiliki loket dan itupun hanya hitungannya 1 – 2 unit mobil.

Sementara sepanjang jalan lintas Pasar Bengkel berjejer puluhan usaha dagang oleh – oleh home industri milik masyarakat dan sudah mendapat pembinaan dari Pemkab Sergai. Alhasil, saat ini usaha tersebut hampir seluruhnya gulung tikar karena tidak ada lagi mobil dan angkutan penumpang yang singgah. Sekarang masyarakat setempat kebingunan mencari usaha baru untuk melanjutkan kehidupan perekonomiannya masing – masing.

Melihat kondisi Pasar Bengkel Kecamatan Perbaungan Kabupaten Sergai itu, juga akan dialami Kota Tebingtinggi jika jalan tol Tebingtinggi – Pematangsiantar kelak beroperasi dan saat ini sudah dalam tahap pembangunan. Ini artinya, pembangunan jalan tol Tebingtinggi – Pematangsiantar – Parapat akan berdampak terhadap masyarakat Kota Tebingtinggi khususnya para pedagang jajanan makanan yang selama ini ramai dikunjungi warga dari luar Kota Tebingtinggi.

Sebenarnya, Kota Tebingtinggi sebagai daerah hinterland, sangat strategis sebagai Kota Jasa dan Perdagangan apa lagi dengan kondisi saat ini, semua tumpah ke Kota Tebingtinggi. Mobil pribadi maupun angkutan penumpang yang datang dari Pematangsiantar dan Batubara serta Asahan menuju Medan maupun sebaliknya ‘tumpah’ di Kota Tebingtinggi. Hal ini sudah barang tentu membuat Kota Tebingtinggi sebagai daerah segitiga selalu ramai dikunjungi warga dari luar daerah.

Jika Kota Tebingtinggi sebagai perlintasan selalu ramai baik siang maupun malam, sudah pasti akan membuat usaha jajan makanan, kopi dan jasa lainnya tetap hidup dan berkembang. Kita lihat saja sekarang ini, usaha dagang berkembang dengan pesat, banyak muncul usaha cafe yang mengutamakan menu kopi. Hampir di semua pelosok di kota Tebingtinggi bermunculan usaha cafe dengan mengutamakan brand kopi. Usaha – usaha dagang masyarakat dengan mengutamakan nama kopi, kini tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Pekarangan warga, teras rumah yang strategis kini di sulap sebagai tempat mangkal dan santai serta tetap mengutamakan nama kopi (cafe). Hingga saat ini, usaha – usaha tersebut bisa dikatakan berjalan dengan baik dan selalu dikunjungi para penikmat kopi. Pengunjung untuk menikmati kopi di Kota Tebingtinggi saat ini mayoritas berasal dari luar Kota Tebingtinggi, seperti warga Pematangsiantar, Simalungun, Batubara, Asahan dan Sergai.

Wagubsu dan Walikota Tebingtinggi menikmati kopi saat festival kopi dan kuliner

Warga luar Kota Tebingtinggi itu, menyinggahkan diri untuk menikmati kopi dan makanan khas lainnya di kota Tebingtinggi setelah mereka keluar jalan tol dan semuanya tumpah ke Kota Tebingtinggi. Singgah di Kota Tebingtinggi bukan semata – mata melepaskan lelah dan capek. Akan tetapi warga dari luar singgah di Kota Tebingtinggi setelah keluar jalan tol karena benar – benar akan mendapatkan menikmati minuman kopi dan makanan khas lainnya serta mencari roti kacang.

Namun hal itu kelak sulit berkembang bahkan para pengusaha makanan dan oleh – oleh yang ada di Kota Tebingtinggi, khususnya di jalan lintas akan gulung tikar jika jalan tol Tebingtinggi – Pematangsiantar – Parapat dan jalan tol Tebingtinggi – Kuala Tanjung – Asahan mulai beroperasi.

Warga dari luar Kota Tebingtinggi baik Medan, Pematangsiantar, Batubara dan Asahan yang melintas dari jalan tol nantinya tidak lagi singgah di Kota Tebingtinggi untuk menikmati makanan dan minum kopi. Mereka yang datang melalui jalan tol dari Medan menuju Pematangsiantar, Batubara, Asahan maupun sebaliknya tidak akan singgah lagi di Kota Tebingtinggi jika memang bukan untuk menikmati secangkir kopi dan makanan khas lainnya.

Dengan beroperasinya jalan tol Tebingtinggi – Pematangsiantar dan Tebingtinggi – Kuala Tanjung (Batubara), harus menjadi perhatian bagi Pemko Tebingtinggi sehingga apa yang dialamai pedagang oleh – oleh di Pasar Bengkel tidak terjadi bagi pedagang makanan yang ada di Kota Tebingtinggi. Pemko Tebingtinggi sejak dini harus memikirkan kelangsungan hidup pedagang yang selama ini menggantungkan income dari konsumen di luar Kota Tebingtinggi.

Wagubsu dan Walikota memperhatikan makanan kuliner yang dijajakan

Tidak bisa dipungkiri, beroperasi kelak jalan tol Tebingtinggi – Pematangsiantar dan Tebingtinggi – Kuala Tanjung (Batubara) akan serta merta membuat kondisi Kota Tebingtinggi sepi dan arus lalu lintas lengang karena mobil pribadi dan angkutan umum dari Pematangsiantar serta Asahan, Batubara menuju Medan dan sebaliknya akan melewati jalan tol. Tidak seperti saat ini, semua mobik pribadi dan angkutan umum yang datang dari Pematangsiantar, Batubara, Asahan tujuan Medan dan sebaliknya masih tetap tumpah dan bertemu di Kota Tebingtinggi.

Untuk menyiasati Kota Tebingtinggi tetap ramai walaupun jalan tol Tebingtinggi – Pematangsiantar, Tebingtinggi – Kuala Tanjung – Batubara nanti telah dibuka, harus ada yang dilirik atau dinikmati di Kota Tebingtinggi.

Pemko Tebingtinggi bersama masyarakat harus saling bergandengan tangan menciptakan daya tarik bagi orang luar masuk ke Kota Tebingtinggi walaupun sudah ada nantinya jalan tol, warga luar tetap menyempatkan diri datang ke Kota Tebingtinggi.

Salah satu yang harus dikembangkan Pemko Tebingtinggi dan benar – benar punya data tarik dan mikmat tersendiri bagi orang luar dari Kota Tebingtinggi adalah minuman kopi dan makanan kuliner. Pengusaha kuliner di Kota Tebingtinggi harus bisa menciptakan rasa kopi dengan nikmat tersendiri yang tidak ada rasanya di daerah lain. Begitu juga makanan kuliner lainnya harus diciptakan dengan rasa tersendiri.

Hal ini sebenarnya sudah terbersit dari program Dinas Pertanian Kota Tebingtinggi. Walaupun di Kota Tebingtinggi tidak ada tanaman kopi, namun dengan terobosan yang dilakukan Dinas Pertanian patut diacungkan jempol menggelar festival kopi dan kuliner Nusantara.

Tidak tangung – tanggung, festival kopi dan kuliner itu melibatkan kabupaten / kota di Sumut bahkan kegiatan itu dibuka langsung Gubernur. Melalui kegiatan itu, diharapkan dapat menjaring kopi unggulan yang tidak ada rasanya di daerah lain, sehingga Kota Tebingtinggi memiliki minuman kopi unggulan yang harus dicari dan dikejar warga dari luar Kota Tebingtinggi.

Hal ini yang harus benar – benar diciptakan Pemko Tebingtinggi yakni membuat brand kopi unggulan yang tidak ada di daerah lain. Jadi, warga luar Kota Tebingtinggi kendatipun sudah ada jalan tol, tetap harus datang ke Kota Tebingtinggi untuk menikmati kopi dan kuliner lainnya. Mereka tidak langsung ke Siantar, Asahan, Batubara dan sebaliknya melalui jalan tol, tetapi dengan adanya kopi daya tarik Kota Tebingtinggi, mereka harus tetap keluar di pintu gerbang tol Tebingtinggi untuk menikmati kopi dan kuliner lainnya.

Walaupun Tebingtinggi tidak khas dengan perkebunan kopi, Wagubsu Ijeck menilai pelaksanaan Festival Kopi dan Kuliner Nusantara ini merupakan tindakan yang berani dan kreatif.  “Artinya melawan keterbatasan yang ada ini,” ujarnya.

Selain memicu pertumbuhan ekonomi, pelaksanaan event-event baik nasional maupun internasional yang terlaksana di Sumut, juga akan membantu promosi wisata Sumut secara keseluruhan.

Walikota Tebingtinnggi, Umar Zunaidi Hasibuan menyampaikan, festival kopi dan kuliner nusantara ini merupakan yang pertama kali terlaksana di Tebingtinggi dan direncanakan akan ada setiap tahunnya. “Pelaksanaan event ini sebagai bentuk usaha kami wujudkan visi menjadi kota jasa dan perdagangan. Ada banyak event lain yang kami laksanakan, Tebingtinggi Expo, Cultural Night, Pawai dan Karnaval Budaya Indonesia, Tebingtinggi Agriculture Market, dan yang terakhir Pameran Flora dan Fauna,” ucap Umar.

Umar mengakui, meskipun mereka bukan penghasil kopi, dirinya tak ragu untuk laksanakan festival ini. “Menanam kita memang tidak bisa, tapi menjual kita bisa,” katanya.

Jika dahulu mengonsumsi kopi identik dengan minuman orang tua, kini kopi sudah menjadi minuman favorit banyak kalangan, termasuk para anak muda.

Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Musa Rajekshah saat membuka Acara Pos Simpul Koordinasi Festival Kopi dan Kuliner Nusantara Halal Food di Lapangan Sri Mersing Kota Tebingtinggi mengatakan, perubahan tren dalam mengkonsumsi kopi diharapkan bisa dimanfaatkan peluangnya oleh para pelaku usaha.

“Sekarangkan anak muda suka nongkrong di cafe-cafe kopi. Saya apresiasi sekali pemerintah dan masyarakat Tebingtinggi yang cermat menangkap peluang,” kata Wagubsu Musa Rajekshah yang juga akrab disapa Ijeck.

Ijeck menyebut, meski Tebingtinggi tidak khas dengan perkebunan kopi, namun pelaksanaan Festival Kopi dan Kuliner Nusantara merupakan tindakan yang berani dan kreatif. Artinya melawan keterbatasan yang ada.

Selain itu, mengadakan event-event seperti ini juga dinilai akan menambah pemasukan daerah. Karena dapat menarik para pengunjung yang akan berdatangan dari luar daerah dan berpotensi melakukan aktivitas belanja. “Nantinya akan meningkatkan pendapatan dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi,” sebutnya.

Selain memicu pertumbuhan ekonomi, pelaksanaan event-event baik nasional maupun internasional yang terlaksana di Sumut, juga akan membantu promosi wisata Sumut secara keseluruhan.

“Kopi Sumatera sangat terkenal. Semoga ke depannya jangan orang asing lagi yang jadi pengekspor kopi kita,” ucap Ijeck.

Wali Kota Tebingtinnggi, Umar Zunaidi Hasibuan menyampaikan, festival kopi dan kuliner nusantara merupakan yang pertama kali terlaksana di Tebingtinggi dan direncanakan akan ada setiap tahun.

Pelaksanaan event sebagai bentuk usaha mereka untuk wujudkan visi Tebingtinggi menjadi kota jasa dan perdagangan. Selain ini, ada banyak event lainnya yang dilaksanakan yaitu Tebingtinggi Expo, Cultural Night, Pawai dan Karnaval Budaya Indonesia, Tebingtinggi Agriculture Market.

Semoga festival kopi dan kuliner nusantara bisa kembali dilaksanakan sehingga Kota Tebingtinggi tetap ramai dikunjungi warga dari luar Kota Tebingtinggi.

Laporan : red

Print Friendly, PDF & Email
Please follow,Share and Like us :
tags: , , ,

Related For Kopi dan Kuliner Bermutu, Antisipasi Tebingtinggi ‘Mati Suri’